Ganggawa di Malam Hari

Orang bilang sangat pekat ini malam Ujung jari tak tampak mereka bilang

Menjadi Seorang Murobbi

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107)

FOTO KKN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

ISLAMIC CAMP

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM

Lokasi di Jl Dg Tata Raya, Parangtambung Makassar, Sulawesi Selatan

Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Tuesday, 23 July 2013

TAWURAN DAN REFLEKSI PERJUANGAN DAKWAH KAMPUS UNM

Created By A.Muh.Akhyar (Ketua Umum SCMM BEM FMIPA UNM 2010/2011)



TAWURAN UNM; kamis, 11 Oktober 2012
Dua mahasiswa korban tewas akibat tawuran itu berasal dari Universitas Negeri Makassar, Kini dua jenazah mahasiswa UNM, Rizky Munandar dan Haryanto divisum di ruang jenazah RS Bhayangkara, Kamis (11/10/2012) malam. Kedua Korban ditikam di RS Haji Sulsel, Jalan Daeng Tata dan sempat mendapatkan pertolongan tim medis. Selanjutnya, jenazah korban telah dibawa ke ruang jenazah RS Bhayangkara, Makassar untuk menjalani visum. Saat visum dilakukan, turut hadir di dalam ruangan pihak rektorat UNM melihat tim dokter melakukan visum. Sementara itu, para korban luka ringan yang sempat di rawat di RS Haji Sulsel telah dipulangkan. Sedangkan enam korban luka berat terkena panah dan tikaman senjata tajam dirujuk ke RS Bhayangkara mengingat situasi masih mencekam.
 
Tampak ratusan aparat keamanan dari Brimob Polda Sulsel, Polrestabes Makassar, Polsekta Tamalate, Polsekta Rappocini, Polsekta Mamajang bersenjata lengkap melakukan pengamanan di RS Haji Sulsel dan RS Bhayangkara. Keluarga salah satu korban tewas, Haryanto yang datang ke RS Bhayangkara histeris melihat Haryanto terbaring tak bernyawa di ruang jenazah RS Bhayangkara. Ratusan rekan-rekan korban yang berada di RS Bhanyangkara berusaha menenangkan pihak keluarga. Namun, beberapa rekan korban marah saat wartawan mencoba mengambil gambar.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tawuran mahasiwa terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) Parang Tambung. Sejumlah mahasiswa yang terlibat tawuran terkena anak panah. Belum diketahui penyebab pasti tawuran itu, namun aparat kepolisian dari Polsekta Tamalate yang terjun ke lokasi bentrokan berupaya menenangkan situasi.

REFLEKSI PERJUANGAN DAKWAH KAMPUS UNM
Penulis merupakan salah satu saksi sejarah tawuran di UNM parang tambung siang itu. Ketika semua orang sedang asyik melihat pertemuran yang begitu seru, entah mengapa terlntas dalam benak penulis tentang perjuangan dakwah di UNM. “apakah segala upaya dakwah yang telah kita lakukan selama ini di UNM gagal ? “. 

Dalam kecamuk perang tersebut penulis tak dapat menahan tetesan air mata yang getarannya merasuk hinggah ke kalbu. Bagaimana tidak, jikalau kami menganalisis hadirnrnya SAINS sejak tahun 2007 sebagai ujung tombak dakwah yang langsung bersentuhan dengan mahasiswa baru, dimana setiap mahasiswa baru telah terbina dengan pembinaan Al quran lewat tangan para pengusung dakwah tersebut, ternyata belum mampu mewarnai kehidupan kampus. Sebenarnya apa yang salah? Mengapa sejak tahun 2007 pembinaan Al quran melalui SAINS telah digalakkakn di UNM namun belum mampu mengubah budaya tawuran di kampus ini. Padahal notabenenya, para penggiat tawuran tersebut adalah mahasiswa yang dahulu telah terbina dalam SAINS. Bahkan pembunuh berdarah dingin, mahasiswa seni, masih semester tiga, angkatan 2011.

Kami berpikir, apa yang salah ? Al quran kah yang salah sehinggah tak mampu memperbaiki manusia? Tidak mungkin! Dulu Rasulullah sallallah `alaihi wasallam memperbaiki orang arab dengan Al quran. Lalu  apa lagi yang kurang dengan dakwah ini ? fasilitas lengkap. Laptop, printer, hampir setiap pejuang dakwah memilikinya. Handphone sebagai sarana komunikasi juga tak satu pun pengusung dakwah yang tak punya. Motor sebagai tunggangan perjuangan mayoritas pengusung dakwah memilikinya. Dana beitu banyak kita dapatkan melalui para senior ataupun dosen yang sangat simpati dengan dakwah. Bahkan dukungan penuh birokrasi kampus terhadap dakwah ini bukan isapan jempol belaka. Penulis begitu terharu saat bersilaturrahim degan ayahanda pembantu Rektor III UNM. Beliau berpesan kepada kami “nak, perbaiki kaderisasinya yah. Agar kalian punya pelanjut perjuangan memperbaiki tatanan kampus, membersihkan pikiran buruk mahasiswa”. Beliau bahkan melanjutkan, “kalau punya program, masukkan saja proposalnya, nanti kita anggarkan dananya”. Di UNM, segala pendukung dakwah sudah ada, sebenarnya apa lagi yang kurang ?

Pertanyaan tersebut terus terlintas dalam pikiran kami hingga akhirnya Allah memberikan ilham untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tiba-tiba saja kami menemukan jawabannya dikala berada pada markas-markas para pejuang dakwah UNM. Dikala kami melihat dalam markas para pejuang dakwah banyak dipenuhi dengan topik pembicaraan seputar akhwat, perbuatan sia-sia yang menjadi kebiasaan; nonton film kartun berjama`ah, nonton video yang di dalamnya terpampang aurat wanita berjama`ah, permaianan game dilakukan hampir setiap hari, lebih sering mendengarkan nasyid dari pada mendengarkan Al Quran, aktivitas begadang yang hampir tiap malam tanpa ada urusan yang sangat penting. Sholat lail yang ditinggalkan, sholat dua rakaat sebelum subuh jarang dilakukan, bahkan terlalu sering masbuk sholat lima waktu, padahal para pejuang dakwah tersebut telah tinggal di dalam masjid ataupun bedomisili di depan masjid. Dzikir pagi petang diganti denga tidur pagi petang. Lebih sering duduk dengan laptop dari pada bersilaturrahim ke rumah mad`u, para objek dakwah. Rasa kepemilikan terhadap hak milik orang lain telalu tinggi sehingga menggunakan barang; sandal, dll yang dimiliki orang lain menjadi hal yang biasa bagi para pejuang dakwah tersebut.

Melihat kenyataan ini mengingatkan kami dengan taushiah ust. Ihsan zainuddin bahwa sesungguhnya keburukan itu walaupun tampaknya kuat namun sesungguhnya akarnya lemah. Kemenangan bagi perjuangan islam sebenarnya bukan perkara sulit. Kemengan islam telah berada di ambang pintu, hanya saja saat ini, Allah belum menemukan orang yang tepat untuk diberikan pertolongan itu karena kata umar bin khattab radiallu anhu, kemenangan bukanlah melalui kekuatan kita, namun kemenangan itu melalui pertolongan Allah. Sebenarnya begitu mudah bagi Allah untuk menegakkan agamanya di UNM. Menjadikan setiap mahasiswa UNM bertakwa kepada-Nya lewat berbagai program dakwah yang kita telah gencarkan. Namun Allah belum menemukan orang di UNM yang pantas menerima pertolongan Allah tersebut.

Ingatkah kita, bagaimana Sholahuddin al Ayyubi mampu membebaskan Palestina dari tangan orang orang orang kafir ? Atau kah kisah Sultan Muhammad Al fatih yang menaklukkan konstantinopel ? Mereka adalah contoh manusia pilihan yang yang Allah pilih bersama pasukannya sebagai orang yang pantas menerima pertolongan Allah. Di tangan mereka lah kemenangan Islam dapat di raih di masanya. Mereka bersama para prajuritnya adalah orang yang sangat dekat dengan Allah. Tak satu pun para pasukan mereka sejak lahir hingga dewasa, yang pernah melalaikan sholat lima waktunya. Mereka tidak pernah masbuk sholat berjam`ah. Tiada malam yang mereka lalui kecuali medirikan sholat lail di adalamnya. Tiada pagi dan petang kecuali mereka lalui dengan dzikir. Maka wajarlah ketika rasulullah memujinya bahwa sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. Wajar pula bila kemenagan islam dapat merka raih di zamannya karena Allah menilai mereka sebagai orang-orang yang pantas mendapatkan pertolonganNya.
Maka kita harus sadar bahwa selama para pejuang dakwah UNM belum mampu meninggalkan maksiat dan kesia-siaanyanya, jangan berharap tawuran dapat berhenti di UNM. Semoga tawuran ini dapat menjadi refleksi bagi kita para pejuang dakwah agar dapat bermuhashobah, memperbaiki diri kita. Mari berkomitmen untuk merubah segala kekurangan kita menjadi kebaikan. Mari kita mengganti topik pembicaraan seputar akhwat dan walimah menjadi pembicaraan seputar tarbiyah dan perjuangan. Kita ganti film yang menampakkan aurat wanita atau film kartun dengan membaca buku dan Al qura`an. Kita ganti permaianan game dengan latihan prisai badar. Kita ganti nasyid dengan murottal. Kita persingkat tidur dengan mendirikan tahajjud. Kita ganti tidur pagi petang dengan dzikir pagi petang. Tidak ada yang tidak bisa bila ada kemauan dan do`a. Umar bin khattab saja yang dulunya premannya mekah, mampu memperbaiki diri hinggah mendapatkan kemuliaan. Tugas kita sekarang adalah bagaimana semakin memperbaiki diri hingga Allah ridho dengan kita dan menggolongkan kita sebgai orang yang pantas mendapatkan pertolongan-Nya. Mari memperbanyak sujud dan do`a. Kemenagan islam itu hanya bisa di raih dengan pertolongan Allah, dan  pertolongan Allah hanya akan diberikan kepada  orang yang dekat dengan-Nya, yaitu orang yang punya ruh perjuangan dan ruh perjuangan didapatkan dalam ibadah. Wallahu ta`ala A`lam

Watak Yahudi

Kita akan berbicara tentang suatu kaum yang paling rewel sejagat dalam sejarah. Paling pintar ngeles, kuat tipu daya-nya, terkenal kelicikannya, dan penuh dengan pengkhianatan. 

Allah begitu gamblang menjelasjkan sepak terjang mereka dalam Al Qur’an. Tidak ada cerita yang begitu panjang dalam Al Qur’an yang melebihi cerita tentang Bani Israil (Yahudi) ini. Mereka di tegur habis-habisan oleh Allah. Kita mulai saat mereka berada dalam kejaran Fir’aun. Baru-baru saja mereka diselamatkan dari kejaran pasukan Fir’aun melewati lautan yang dibelah untuk mereka, dan  baru saja mereka sampai di ujung lautan. Tiba-tiba mereka sudah kembali ingkar. “Bikinin tuhan dong!” kata mereka kepada Musa.

 Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tekun menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:  “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang membodoh!”. (Al A’raaf: 138)

Benarlah Musa, Kalian ini qaumun tajhalun, kaum yang membodoh! 

Cerita bodohnya berlanjut terus....
Dan kaum Musa, setelah bepergian ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka dengan lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang zhalim”. (Al A’raaf:148)

Bayangkan lagi. Ditinggal ke gunung Thur sebentar saja, sudah pandai buat tuhan dari perhiasan emas yang seharusnya jadi bekal.

Rewelnya budak Fir’aun ini pun sampai pada soal makan. Allah telah menurunkan kepada mereka manna dan salwa, makanan yang lebih lembut daripada susu dan lebih manis daripada madu serta daging burung yang dipanggang, bisa mereka nikmati tanpa susah payah. Apa kata mereka tentang karunia itu:
Dan (ingatlah), ketika kalian berkata:”Hai Musa, kami tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja. Sebab itu berdoalah kamu, untuk kami, kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur,ketimun,bawang putih,kacang adas,dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikianlah itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (Al Baqarah: 61)


Mereka juga adalah kaum yang suka berdebat. Bertanya tentang agama hal-hal yang sudah jelas sehingga hal itu justru semakin mempersulit mereka. Lihatlah deretan panjang pertanyaan rewel mereka yang diabadikan dalam Al Qur’an:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?"
 Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil". Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu."
Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu”. (Al Baqarah:67-71)

Itulah mereka. Mereka sedang duduk garuk-garuk kepala di pinggir perbatasan Palestina. Kepengecutan membuat mereka tak berani melangkah memasuki tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka. Dan apa yang mereka katakan:
“Mereka berkata:”Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al Maaidah:24)


Kesombongan mereka tampak pada ayat berikut:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya(Al Baqarah:55)

Mereka dilaknat menjadi kera dan babi lantaran mengakali larangan untuk mencari ikan pada hari sabtu, dikarenakan sabtu merupakan hari ibadah mereka.
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina". (Al Baqarah:65)

Dan masih banyak lagi kerewelan-kerewelan yang lain, kesombongan-kesombongan yang lain, dan tipu daya:
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (Al Baqarah:65)
“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat “. (Al Baqarah:85)

Mereka juga adalah kaum yang dimurkai. Mereka dulu sebelum Kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka selalu mengatakan bahwa mereka sedang menanti-nantikan nabi akhir zaman yang akan mereka ikuti dan memerangi orang kafir. Namun saat Rasulullah diangkat menjadi nabi dan mengetahui Rasulullah berasal dari golongan arab bukan golongan mereka, serta merta mereka ingkar dan mendustakannya.
“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[70], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu” . (Al Baqarah:89
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.(Al Baqarah:96)

Kalau ingin membaca deskripsi Yahudi secara lengkap, bacalah Al Quran Surah Al Baqarah mulai ayat 40 sampai ayat 101. Jarang-jarang (atau mungkin tidak ada)  satu perkara yang Allah membahasnya sampai sepanjang itu dalam Al Qur’an.

Peran Media dalam Mengontrol Pikiran Manusia


Media massa merupakan salah satu unsur penting yang sangat berperan dalam mengotrol opini publik/masyarakat umum. Media dapat menjadi teman yang baik dan bisa menjadi sosok monster yang dapat mempengaruhi opini terhadap suatu isu yang sedang berkembang.
Perlu kita pahami, media tidak selalu memberikan informasi yang benar-benar berdasarkan fakta. Media terkadang memanfaatkan kemampuan mereka sebagai pengendali opini publik untuk malah menyamarkan fakta yang ada dan menciptakan fakta-fakta baru yang mereka ulas berkali-kali seolah-olah itu merupakan fakta yang benar. Dan dari sinilah opini publik dan masyarakat awam khususnya berubah serta mulai terbentuk dengan keragaman fakta baru yg diangkat oleh media.
Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya - seperti kata sebuah koran “Bijak di garis tak berpihak”- . Media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan. Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana ideologi kelompok-kelompok lain. Salah satu kelompok-kelompok dominan itulah  yang mem-blow up berita-berita terorisme islam dan menjadikan isi beritanya seolah-olah islam adalah agama radikal dan penuh dengan makna teror dalam ajarannya.
Pemikiran publik yang mulai teracuni tentang terorisme islam akhirnya menciptakan spekulasi antara kaum muslim untuk melahirkan sikap saling curiga di tengah-tengah umat, bahkan bisa  memunculkan sikap saling memfitnah. Sikap ini jelas-jelas tidak terpuji dan diharamkan dalam islam. Kemudian selain itu akan melahirkan tindakan melawan hukum (main hakim sendiri) terhadap pihak lain karena curiga atau rasa khawatir yang berlebihan. Dan bahkan yang paling tragis melahirkan rasa takut di kalangan umat islam terhadap agamanya sendiri, hingga tak heran jika sesama muslimin sendiri saling terjadi ghibah dimana biasanya para muslim yang sedang berusaha untuk kaffah dan istiqomah menjadi sasaran caci bahwa mereka adalah teroris.
Saya ingin menjelaskan atau menceritakan sedikit tentang apa itu teroris supaya tidak terjadi kerancuan dalam memahaminya. Teror adalah fenomena yang cukup tua dalam sejarah. Menakuti,mengancam, memberi kejutan kekerasan, atau membunuh untuk menyebarkan rasa takut. Terorisme memiliki karakter: korban bukan merupakan tujuan, melainkan sarana untuk menciptakan perang urat syaraf, yakni “ Bunuh satu orang untuk menakuti seribu orang”. Teroris nampaknya adalah seorang pribadi yang narsitis, dingin secara emosional, asketis, kaku fanatis, dst.
Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara islam dan terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya? Pertanyaan dia atas terus mengalir deras, sederas banjir. Stigmatisasi islam sebagai agama teroris makin dahsyat. Ini  terkait erat dengan maraknya gerakan islam politik yang menunjukkan pandangan-pandangan fundamentalistik. Fenomenanya, pasca runtuhnya menara kembar WTC, respon sebagian besar gerakan Islam Politik bukan malah simpatik terhadap korban kemanusiaan, melainkan makin memperbesar resistansi terhadap barat. Yang mengemuka adalah semangat anti barat. Apaun yang datang dari barat  senantiasa dikecam dan ditolak.
Sebenarnya isu memerangi terorisme adalah perang melawan Islam dan kaum muslimin. Mereka mencoba membidik umat islam di balik isu terorisme. Mereka takut akan bangkitnya kaum muslimin. Islam dianggap ancaman karena Islam bukan hanya sebagai agama, namun lebih kepada ideologi atau cara pandang hidup (way of ilfe) umatnya. 
 Saat ini umat islam tertuduh dan  semua ketakutan dengan segala tentang islam, karena selalu dikaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam, dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.  Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya dimana, dan segala macam secara berulang-ulang. Bahkan di sebuah wilayah , beberapa orang yang hendak melakukan khuruj (aktivitas yg rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengemboman di hotel JW Marriot dan Ritz Calton. Warga setempat tidak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme. Sikap PARANOID ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme. Bukannya objektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif islam dan kaum muslimin.
Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisasi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga. Tanpa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita  yang didapatkannya layak disiarkan. Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa universitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?
Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi “orang bodoh” dan menurut saja arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lain. Sampai-sampai ketika sumber-sumber  berita mereka menyatakan berita salah pun, ditelan mentah-mentah. Ketakutan akan islam akan pun mulai merambah pada perbuatan ekstrim seperti yang terjadi di jerman, seorang pria menusukkan pisau dapur berukuran 16 cm sebanyak 16 kali ke tubuh wanita muslim yg berjilbab dan ironisnya wanita ini tengah mengandung 3 bulan. Melihat keadaan seperti ini para muslim yg merasa diintimidasi akan mulai berontak dan melakukan serangkaian aksi membela sesama muslim yg lain, meski terkadang jalur yang dipilih pun tidak selalu benar. Kondisi seperti ini TENTU SAJA menarik bagi media untuk meliputnya, meliput konflik tentang kemarahan kaum muslim dan lebih menuju peliputan tindakan-tindakan ekstrim kaum muslim selama membela diri dan tidak memperdulikan alasan kaum muslim kenapa mereka berlaku demikian. Bagi mereka yg tidak mengerti duduk perkara yg terjadi, mereka hanya akan mengambil mentah  dari setiap fakta realitas yang diungkap media. Padahal seandainya semua media sebagai wadah pentalur informasi sesuai realitas yg ada, tentu saja publik tidak akan mudah terpecah belah dalam berasumsi dan menentukan sikap kepada kaum muslimin.
Ibarat sayur tanpa garam, itulah perumpamaan keberadaan media massa di tengah kehidupan masyarakat. Keberadaannya seolah menjadi candu yg telah menghipnotis publik, ketiadaaannya akan menjadikan masyarakat kehausan dan selalu mencari-cari. Kemampuannya dalam mengolah berita dan menjadikannya  sebagai konsumsi publik benar-benar telah menunjukkan betapa media  memiliki kekuasaan dalam mengendarai pemikiran publik. Namun seharusnya media benar-benar menjadi sumber informasi yang akurat, sumber informasi fleksibel yg memandang dan menyoroti berbagai masalah dari dua sudut pandang sehingga dengan demikian ibarat penyajian makanan, maka media dapat memberi sarana  kepada publik untuk memilih tentang bagaimana nantinya mereka menelan berita yg mereka konsumsi, memberi fasilitas kepada publik untuk menentukan pada kondisi atau situasi berita seperti apa mereka bersikap dan membiarkan publik  bereksplorasi sendiri terhadap informasi yg mereka peroleh. Seperti kasus-kasus yg terjadi  dengan agama islam sendiri, berdasarkan dari fakta yg didapat, pencitraan “islam yg damai” telah berubah menjadi “islam yang  penuh teror”. Hal ini akibat dari pemberitaan media yg cenderung lebih menyudutkan dan terlalu sering mengkonotasikan islam sebagai agama yg penuh kekerasan. Dan dampak dari semua ini adalah tak jarang terjadi permusuhan antara kaum muslim sendiri karena saling mencurigai.
Masyarakat juga harus tabayyun (mengklarifikasi ) berita yang datang, sehingga masyarakat menjadi lebih bijak dalam menilai segala setuasi yang ada., tidak mudah terpancing amarah dan bertindak ekstrim.

Warna Warni Sahabat Nabi


Bagaikan kain putih yang telah terkena beberapa noda, pribadi-pribadi mukmin kemudian dicuci dengan syahadat yang mereka ikrarkan. Allah kemudian memberi warna dengan celupan-Nya, celupan warna dengan citarasa Ilahi yang Maha Tinggi.  Tentang warna-warni itu? Ya. Islam tidak menghapus karakter-karakter khas bagi pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan aqidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang menyejarah. Bahkan rasulullah menyebutnya, “Khiyaarukum fil jahiliyah, khiyaarukum fil Islaam.. Orang terpilih kalian di masa jahiliyah akan menjadi orang terpilih pula di masa keislamannya”.

Para sahabat adalah figur-figur menarik yang penuh warna, menggambarkan sosok mereka sebagai manusia biasa, namun ada kemuliaan yang senantiasa terukir dalam ke-biasa-annya.
Lihatlah dua sosok yang bayangnya saja begitu agung. Abu bakar dan ‘Umar, 2 sosok yang begitu kontras dalam singsingan fajar ummat Muhammad ini. Abu bakar begitu lemah fisiknya dan kurus sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah, sedang ‘Umar pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat....Masyaallah! Abu Bakar tekenal sebagai sosok yang lembut, sedangkan “umar terkenal sebagai sosok yang keras dan tegas.

Demikianlah. Sampai suatu hari, perbedaan karakter itu menemukan kutubnya yang lain. Saat Abu Bakar akan memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat, “Umar justru bersikap sangat lunak. Benar-benar sebuah kutub lain dari perbedaan karakter.
‘Utsman bin ‘Affan mewakili karakter pemalu, pemurah, dan penuh kelembutan yang menjadi mulia bersama keislamannya. Diriwayatkan bahwa kalau mandi beliau harus berada dalam rumah, dalam sebuah kamar, dalam sebuah bilik tertutup, dan masih harus terselubung kain tebal. Itupun beliau tidak bisa mengangkat kepala dan punggungnya karena malu.

‘Ali yang ceria. Ceria mengajarinya keberanian untuk tidur menggantikan Rasulullah di saat teror pembunuhan mengepung kediaman beliau yang kecil. Ceria mengajarinya berlari-lari menyusur padang pasir sejauh 400 km untuk hijrah seorang diri dalam kejaran musuh.
Abu dujanah memang congkak, tapi ia bingkai kecongkakannya dalam jihad menghadapi musuh-musuh Allah sehingga ia mulia dengan kecongkakannya. Ikat kepala merah, langkah yang angkuh, jalan yang penuh gaya, membuat Rasulullah berkomentar, “ Allah membenci yang seperti ini kecuali dalam peperangan di jalan-Nya!”. 

Ada Abu ‘Ubadah kepercayaan ummat ini. Seperti apa orangnya? Rapi jali. Pandai mengadministrasi, cerdas, dan adil. Sangat dipercaya sampai orang-orang romawi yang beragama nashrani merindukannya. Sangat dipercaya, sampai ‘Umar kehabisan akal untuk memintanya keluar dari kota berwabah. Sangat dipercaya, maka begitu sulit mencari penggantinya mengurus Baitul Maal. Ada Az Zubair hawari Rasulullah, sebuah potret kesetiaan. Dan Thalhah yang perwira, perisai hidup Rasulullah yang di tubuhnya ada tujuh pula sayatan pedang, hunjaman tombak, dan tusukan anak panah. Maka jadilah ia, kata Rasulullah, seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi.

Ada orang-orang besar dengan gelar besar. Ada Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus. Maka tiga belas pedang patah di tangannya pada perang Mu’tah. Ia pedang Allah, yang memang hafal sedikit ayat, tapi seluruh bagian tubuhnya yang penuh dengan luka akan menjadi saksi di hadapan Allah meski ia mati di ranjang. Ada Hudzaifah, pemegang rahasia-rahasia Rasulullah. Maka ialah intilejen paling gemilang dalam sejarah, yg duduk di hadapan Abu Sufyan, pemimpin musuh. Ia, manusia yang lisannya takkan bisa dipaksa berbicara, meski oleh ‘Umar sahabatnya. Ia pemegang rahasia-rahasia. 

Ada lagi yang agung dalam gelar kematiannya. Hamzah penghulu syuhada’, Ja’far pemilik dua sayap yang terbang kian kemari di surga. Abdullah ibn Rawahah yang ranjangnya terbang menghadap Rabbnya. Sa’ad ibn Mu’adz yang kenaikan ruhnya membuat ‘Arsy Allah berguncang, dan Hanzalah yang dimandikan malaikat.

Bahkan diantara sepuluh orang yang dijamin ke surga, terdapat Sa’id ibn Zaid, sosok low profile yang namanya nyaris tidak muncul dalam sirah selain dalam kisah keislaman ‘Umar dan kisah sengketa tanahnya dengan seorang wanita tua. 

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Sosok yang menjadi warna-warni, lalu menjadi pelangi, pelangi yang memancarkan celupan Ilahi.