Ganggawa di Malam Hari

Orang bilang sangat pekat ini malam Ujung jari tak tampak mereka bilang

Menjadi Seorang Murobbi

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107)

FOTO KKN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

ISLAMIC CAMP

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM

Lokasi di Jl Dg Tata Raya, Parangtambung Makassar, Sulawesi Selatan

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Wednesday, 26 August 2015

Kesetaraan Energi (Kuliah Fisika Material dan Divais Nano)

Kuliah perdana semester 3 di program magister fisika ITB dimulai pada tanggal 24 Agustus 2015. Pada semester ini, aku cuma mengambil 2 mata kuliah kelas, 1 MK wajib (Komputerisasi Sistem Fisis) dan 1 MK pilihan (Fisika Material dan Divasi Nano) . Mata kuliah pertama (hari senin) yaitu Fisika Material dan Divais Nano oleh Pak Khairurrijal. Namanya kuliah perdana, selama 2 jam mengajar Bapaknya hanya menanyakan ke mahasiswa definisi dan pengertian "Material", "Divais", dan aplikasi nano teknologi. Namun ada yang pa khairurrijal sampaikan , yang menurutku hal yang menarik. Beliau ketika menanyakan contoh-contoh dari divais, seorang mahasiswa menjawab "HP". beliau kemudian mengajak kami untuk melihat tegangan dan arus hp kami masing-masing, kemudian diminta untuk mengitung berapa usaha yang tersimpan dalam baterai hape kami (dalam satuan joule).Lalu beliau kembali menyuruh kami melihat di internet berapa kalori yang terdapat dalam 1 piring makanan yang kita makan. Kalori dalam 1 piring tersebut lalu kami konversi ke joule. Dan didapat kesimpulan, bahwa ternyata energi dalam baterai itu setara dengan sekitar 9- 10 piring nasi. 

Saya waktu itu, agak terlambat untuk mencari nilai-nilai yang beliau minta. Akhirnya ketika pulang dari kuliah, saya mencoba menghitung kembali dengan teliti dan serius, guna membuktikan perkataan beliau. 

Begini, saya searching di internet tentang baterai HP android yang sering dipake sekarang. Ternyata HP android sekarang rata-rata menggunakan baterai tipe Li-on dengan tegangan kira-kira 3,7 volt. Saya lihat baterai hape saya, tegangannya 3, 8 volt. oke kita dapatkan tegangan: 

                                                                     V = 3,8 volt

Lalu saya mencari lagi contoh hp android dan mendapatkan arus baterainya yaitu (sumber: http://www.lazada.co.id/lg-optimus-l3ii-dual-e435-4-gb-putih-58694.html)  :
                                              

                                                                    Ixt = 1540 mAh

Akhirnya saya bisa menghitung energi yang tersimpan dalam sebuah baterai hape android:

W = V x I x t = 3,8 volt x 1540 mAh = 3,8 volt x 1,540 x 3600 Ampere*detik = 21.067, 200 joule


LAngkah selanjutnya, saya cari lagi di internet, berapa sih kalori dalam 1 porsi makan itu. Dan saya mendapatkan referensi di sini (http://sehatdancantik-mastinah.blogspot.com/2012/04/jumlah-kalori-yang-terdapat-pada.html):
 

Saya mengambil rata-rata 1 porsi makan yaitu 600 kalori. 

Karena 1 kalori = 4, 2 joule, maka 600 kalori = 2520 joule. Artinya dalam 1 porsi makanan mengandung energi 2520 joule.


Terakhir, untuk melihat kesetaraan energi pada baterap hp android dengan energi 1 porsi makanan maka:

21.067, 200 : 2520 = 8,36. Jadi dalam baterai hp andoid dg tegangan 3, 8 volt, arus 1540 mAh setara dengan sekitar 8 piring makanan. Oww... BErarti kalo saya pasang baterai dalam tubuh saya, sy bisa bertahan tidak makan selama 2-3 hari (dan tetap kenyang hehhe)...

Apa yang bisa Anda simpulkan????



Sunday, 9 June 2013

Tanya Jawab Seputar Puasa

Sebentar lagi bulan Ramadhan yang penuh berkah akan menghampiri kita, bulan yang padanya Allah melimpahkan berbagai karunia kepada hamba-hambaNya. Maka hendaklah seorang muslim menyambut ini dengan kegembiraan dan tekad kuat untuk menjalani ibadah puasa pada siang harinya dan shalat sunnat tarwih pada malam harinya. Agar ibadah puasa kita dapat maksimal, berikut beberapa Tanya-Jawab seputar masalah puasa yang kadang dipertanyakan di kalangan banyak. Semoga bermanfaat.
1.      Apakah cukup berniat satu kali saja pada awal ramadhan untuk puasa satu bulan ataukah harus berniat pada setiap malam?
Jawab:
Wajib bagi setiap muslim yang berkewajiban puasa untuk membulatkan niatnya sejak malam hari. Barangsiapa yang tidak berniat dari malam hari, maka ia wajib berpuasa pada hari tersebut dan juga menggantinya di hari lain.
Niat tidak mesti diucapkan, apabila dalam hatinya keinginan dan tekad berpuasa dengan ia makan sahur, maka itu sudah cukup baginya (sebagai niat).

2.      Kapan waktu imsak (menahan diri) dimulai?
Jawab:
Imsak dimulai sejak terbit fajar shadiq, yaitu saat adzan subuh.
Rasulullah bersabda:”Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum”. Ummi Maktum adzan untuk shalat subuh.

3.      Kapan waktu yg afdhal untuk sahur?
Jawab:
Waktu paling afdhal untuk sahur adalah mengakhirkannya hingga menjelang (waktu) shalat subuh. Diriwayatkan bahwa: Rasulullah mengakhirkan makan sahur sampai tidak tersisa antara sahurnya dengan masuknya waktu shalat subuh kecuali seukuran lima puluh ayat. (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Santaplah sahur kalian, karena sesungguhnya pada makanan sahur terdapat keberkahan” (HR Bukhari no.1923)

4.      Hal-hal apa saja yang dapat membatalkan puasa ?
Jawab:
a.      setiap apa yang masuk ke kerongkonan orang yg berpuasa dalam keadaan ia sengaja dan tidak lupa, baik melalui milut, hidung, dan jalan lain yang dapat menyampaikan ke kerongkonan. (Makan dan minum dengan sengaja)
b.      Muntah dengan sengaja. Jika muntah tidak disengaja maka puasanya tidak batal.
c.       Mengeluarkan mani baik dengan mubasyarah maupun dengan istimna’. (kalo ini cari sendiri artinya ya...hehe)
d.      Menggauli istri pada siang hari bulan ramadhan. Ini kesalahan dan pembatal puasa paling besar.

5.      Apakah boleh bagi orang yang sedang berpuasa menggunakan siwak (sikat gigi) dan pasta gigi?
Jawab:
Diperbolehkan menggunakan sikat gigi pada siang hari bulan ramadhan, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah: “siwak itu pembersih bagi mulut dan sebab mendapat keridhaan Rabb”. Begitu pula menggunakan pasta gigi. Namun hendaknya ia berhati-hati jangan sampai ada yang tertelan.

6.      Apabila seseorang bermimpi basah, apakah dapat mempengaruhi puasanya?
Jawab:
Mimpi basah tidak merusak dan mempengaruhi puasa seseorang karena ia terjadi bukan atas kehendak manusia. Walaupun demikian ia wajib mandi junub.

7.      Apa hukumnya orang yang makan dan minum pada siang hari di bulan Ramadhan karena lupa?
Jawab:
Puasanya sah. Ini sesuai hadits Rasulullah:
“barangsiapa lupa ketika berpuasa lalu makan dan minum maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan minum”
(HR Bukhari No. 1933)

8.      Apakah boleh bagi seseorang perempuan mencicipi rasa makanan ketika ia sedang berpuasa ?
Jawab:
Ya,itu boleh baginya dengan syarat ia meludahkannya dan tidak menelannya.

9.      Manakah yang lebih afdhal (utama) bagi orang yang sedang safar, berpuasa atau berbuka?
Jawab:
Apabila seorang muslim bersafar ketika ia berpuasa, maka ia dapat memilih antara berpuasa dan berbuka, dan hendaknya ia melakukan yg termudah baginya.apabila ia berpuasa akan kesulitan, maka pada keadaan ini wajib baginya untuk berbuka.

10.  Apakah berlaku hukum musafir bagi sopir kargo dan bus-bus dalam hal boleh berbuka, mengingat pekerjaan mereka kebanyakan di luar kota pada waktu ramadhan?
Jawab:
Sopir-sopir bus yang menempuh jarak safar berlaku bagi mereka, maka mereka boleh meng-qashar dan menjama shalat serta boleh berbuka, dan mereka harus mengganti puasa yang ditinggalkan sebelum tiba Ramadhan berikutnya. Adapun para sopir yang bekerja di dalam kota, maka tidak boleh bagi mereka untuk berbuka dan hukum safar tidak berlaku bagi mereka.

11.  Apabila seorang wanita suci dari haidh ataupun nifas sebelum fajar terbit dan menunda mandi besar setelah terbit fajar, maka apakah puasanya sah?
Jawab:
Puasa wanita yg suci dari haidh dan nifas sebelum fajar adalah sah, walaupun ia menunda mandi junubnya hingga setelah fajar.

12.  Ada seorang wanita berpuasa padahal ia ragu apakah ia telah suci dari haidhnya atau belum, manakala pagi harinya baru ia mengetahui bahwa dirinya telah suci. Apakah pada keadaan yang demikian puasanya sah?
Jawab:
Wanita yang seperti ini puasanya tidak sah, dan ia wajib mengganti puasa hari tersebut. karena pada hukum asalnya ia masih haidh dan puasanya yang ia lakukan pada keadaan diatas, sama halnya dengan berbuat suatu ibadah dalam keadaan ragu akan keabsahan salah satu syaratnya. Hal ini menghalangi sahnya ibadah tersebut.

13.  Apakah boleh bagi wanita menggunakan pil penahan haidh agar dapat menyempurnakan puasanya?
Jawab: seorang wanita boleh menggunakan pil-pil yang dapat menahan atau memunda tibanya datang bulan, karena terdapat maslahat bagi dia untuk dapat berpuasa bersama masyarakat umum. Dengan syarat tidak menyebabkan bahaya bagi dirinya karena sebagian wanita terganggu kesehatannya jika ia menggunakan obat-obatan tersebut.

14.  Apakah boleh bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan?
Jawab: wanita hami dan menyusui hukumnya seperti orang sakit, apabila ia berat berpuasa maka ia boleh berbuka dan wajib mengganti ketika telah mampu berpuasa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan atas musafir ibadah puasa dan setengah dari shalat, dan atas wanita hamil dan menyusui ibadah puasa.”
 Itulah beberapa tanya jawab seputar masalah puasa. kalo ada yang mau menambahkan atau bertanya atau diskusi..silahkan..

Wednesday, 6 February 2013

MARI MENJADI GURU

Rangkuman:
Sering kita mendapati kelas seperti “bengkel ketok magic”. Isinya seperti kendaraan-kendaraan habis kecelakaan. Hampir seluruh murid juga pernah mengalami tekanan mental. Mereka seakan menjadi objek emosi guru. Mereka hanya terus dibebani tugas-tugas tanpa pernah diajar mengapa ia mesti mengerjakannya. Melihat realitas itu, cara mendidik guru butuh pembenahan.
Harus ada upaya perbaikan cara mendidik. Siswa tidak hanya memiliki ruang intelektual yang bisa dipuaskan dengan deretan teori logika, tapi ia juga memiliki ruang emosi yang mencari “makna”, bagaimana mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan. Karena itu, keberhasilan mendidik tidak bisa diwakilkan pada dua digit angka belaka.
Dari sini, kita mengenal bagaimana pentingnya mendidik agar murid cerdas otak dan hatinya. Maka, membenahi cara mendidik itu adalah dengan keteladanan. Membangun falsafah mengajar dengan falsafah “guru”. Falsafah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh).



Siang itu, peluh muncul menyerupai butiran-butiran embun di kening para murid. Mereka gugup gemetar, seperti budak tak berkutik di depan majikannya. Sebuah tamparan keras baru saja mendarat di wajah seorang diantara mereka. Siddiq, Siswa kelas XI salah satu SMA di Makassar. Korban berikutnya yang tidak mengerjakan PR, terpaksa harus menjadi bulan-bulanan Guru Olahraganya. Bagi Siddiq, kelas seperti tempat luapan kekejaman guru. Setiap guru yang masuk, seperti “monster ganas” yang akan melumat habis tulang-tulang mereka. Kelasnya bagaikan “bengkel ketok magic”. Isinya seperti kendaraan-kendaraan habis kecelakaan. Hampir seluruh murid juga pernah mengalami tekanan mental. Murid sudah menjadi objek emosi guru di kelas. Murid tidak mendapat porsi mengembangkan idenya. Mereka hanya terus dibebani tugas-tugas tanpa pernah diajar mengapa ia mesti mengerjakannya. Gambaran ini menyiratkan bahwa cara mendidik guru butuh pembenahan.
Harus ada upaya perbaikan cara mendidik. Betapa menyakitkannya sebagian guru yang mengajar tanpa memperhatikan perasaan siswanya. Padahal, siswa bukanlah sebatang kayu yang siap dipahat menjadi sebuah patung pajangan. Ia adalah makhluk bernyawa yang memiliki perasaan untuk tumbuh dan berkembang mengenal arti kehidupan. Siswa tidak hanya memiliki ruang intelektual yang bisa dipuaskan dengan deretan teori logika, tapi ia juga memiliki ruang emosi yang mencari “makna”, bagaimana mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.
Karena itu, keberhasilan mendidik tidak bisa diwakilkan pada dua digit angka belaka. Kepribadian tidak bisa disandarkan hanya dengan kata “tuntas” atau “tidak tuntas” menurut KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang disusun guru. Keberhasilan mendidik adalah proses yang kompleks. Selama mendidik, hasilnya masih terus dierami oleh “skor hasil belajar”, maka yang menetas hanya bocah dengan kepala yang mirip “gentong-gentong ilmu”. Oleh sebab itu, kita penting mengetahui bagaimana membangun karakter siswa secara utuh. Mendidik dengan mencerdaskan otak dan hatinya.
Yakinlah, angka-angka dan deretan huruf tidak akan dapat mengubah karakter siswa. Justru bisa menganiaya mereka. Kalau kapasistas IQ-nya pas-pasan, sementara dipaksa untuk belajar kalkulus integral yang “jelimet”, hanya akan mematikan karakter siswa. Dari pemaksaan seperti itu, akan lahir konsep diri negatif, pikiran negatif, kecemasan, dan ketidak-percayadiri-an. Hingga yang tumbuh dan berkembang adalah mental-mental “katak dalam tempurung”. Padahal diketahui, sekolah tidak boleh menjadi penjara yang memasung karakter siswa. Membuat mereka seperti kucing ompong yang sudah dicabuti kuku-kukunya atau seperti menjadi mayat-mayat hidup yang berjalan tanpa ekspresi.
Karena itu, mendidik bukan pekerjaan mudah. Mendidik membutuhkan kepiawaian mengelola dua sifat yang bertolak belakang dalam diri guru, kesabaran dan ketekunan. Ia membutuhkan cinta dan ketegasan pada saat yang sama. Mendidik menuntut bukti membangun karakter. Menghadapi orang pintar itu mudah. Akan tetapi yang sulit adalah membentuk seorang dungu menjadi pemimpin besar, suatu saat nanti. Pantaslah, mendidik butuh banyak waktu, dan kerja keras sebagaimana merubah tumpukan batu tambang menjadi emas.
Terkadang bagi guru, ilmu kearifan bertarung dalam diri melawan rasa marah menghadapi siswa. Namun, ia mesti menang, atas dasar keyakinan bahwa, selalu saja ada potensi luar biasa yang dipendam siswa. Tidak berarti, murid yang mengabaikan tugas-tugasnya  identik dengan malas. Siapa yang menyangka, bahwa murid seperti itu ternyata tengah sibuk menyusun sebuah novel bakal best seller ?. Begitu pula, menghadapi siswa yang merasa “capek” duduk diam, namun tidak pernah capek berlarian mengejar bola di tengah matahari terik. Karena ia ternyata seorang calon pemain bola terkenal.
Di sinilah guru menunjukkan perannya. Mampu mendalami diri muridnya dan menunjukkan diri sebagai seorang yang patut mengajarkan ilmu karena ia adalah sumber ilmu bagi muridnya.
Kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah di sebuah sekolah di pelosok Majene, Sulawesi Barat. Sebut saja Ida, seorang murid yang namanya sudah berulang kali disebut dalam rapat siswa bermasalah oleh Dewan Guru. Ia sudah memperoleh nyaris semua jenis hukuman. Namun, tak satu pun dari sanksi itu membuatnya bergeming. Hukuman terakhir diperolehnya dari Guru Pelajaran Bahasa yang diampu oleh -sebutlah- Bapak Abdul. Ia diperintahkan menulis kalimat “Aku Malu Datang Terlambat” sebanyak 10.000 kali, dan dilarang masuk dalam pelajarannya sebelum memungkaskan tugas itu. Ternyata Ida menyanggupi sanksinya. Ia menulis kata-kata itu di setiap kesempatannya. Hampir tidak ada lagi waktu baginya untuk melakukan aktivitas lain.
Apa yang terjadi ?. Sekitar 6 tahun kemudian, Ida mendatangi Pak Abdul. Kedatangannya membuat Pak Abdul heran karena bersama derai air mata di pipinya. Ia ternyata sudah menjadi seorang dokter yang sukses. Saat ditanya tentang keberhasilannya, Ida menjawab “Dengan hukuman bapak, saya menjadi sadar. Saya menangisi diri, saat menjalaninya. Tugas itulah yang menidurkan saya. Ia pula yang membangunkan saya, saat bapak dan ibu saya tidak pernah memberi perhatian dengan kesibukan di kantornya. Terima kasih pak atas hukumannya”.
Seperti inilah guru yang kita inginkan. Mendidik dengan cinta, namun tegas dalam keputusan. Hukumannya seperti obat. Pahit, namun menjadi terapi. Peringatannya ditakuti, namun ketidakhadirannya dirindukan. Itu semua karena keputusannya dibangun di atas kebijaksanaan sebagai simbol “ilmu” yang berpengaruh dalam dirinya.
Di samping itu, murid butuh guru yang perhatian. Mereka membutuhkan sentuhan kasih orang tua yang mengelus kepalanya dengan ikhlas, membekas hingga ke hati. Murid merindukan guru yang menyayangi mereka. Hatinya butuh kehangatan jiwa seorang pendidik, dan kesejukan kata-kata yang menyentuh dasar kalbunya. Jiwa mereka mencari seorang figur yang mengajarkannya bagaimana memperoleh kebahagiaan. Serta sederhana dalam berbuat, namun tegas dalam perkataan.
Mendidik adalah mengarahkan murid agar bisa meraih kebahagiaan. Bukan hanya untuk pintar. Mendidik adalah pengarahan, agar siswa mengerti jalan hidupnya. Mendidik adalah membentuk karakter dan merubah kepribadian. Jujur, dan bertanggung jawab, dari situlah kemuliaan muncul. Hanya saja, semua itu bukan lahir dari deretan soal pilihan ganda ilmu eksak, atau panjangnya lintasan olah raga dalam satuan lari jarak jauh. Atau mungkin, dari tugas mengarang pelajaran bahasa. Semua itu lahir dari kepribadian guru sendiri. Karena gurulah cermin siswa dalam berbuat. Kata-katanyalah yang juga berulang dalam kalimat anak-anak di kesehariannya. Dan ketika ditanya mengapa ia rajin membantu orang tuanya, ia akan menjawab “kata guruku pak, seperti ini adalah pekerjaan mulia”.

Membangun Karakter Murid dengan Keteladanan
Guru adalah teladan, yang mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana menjadi mulia. Guru adalah pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya. Menjadi mulia dengan keteladanan, tidak bisa didekati dengan deretan daftar Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar. SK dan KD hanya perbincangan dalam tataran materi. Adapun karakter, sikap gurulah yang paling berpengaruh membentuk siswa.
Hal yang membekas dalam diri murid bukan rumus yang terpampang di papan tulis, tapi bagaimana kesan guru menulisnya. Apakah ia tampil dengan “doktrin” paksaan atau dengan pesan kearifan. Hingga bukan hanya ilmunya yang sampai, tapi “caranya” menarik simpati dan membekas dalam hati murid, karena ia juga berasal dari hati.
Karena itu, mendidik harus dibangun di atas falsafah ke-guru-an. Falsafah “digugu” dan “ditiru”. Mengembalikan peran guru sebagai sosok yang pantas didengar perkataannya dan ditiru perbuatannya. Sehingga mendidik bukan sekedar aktivitas transfer ilmu. Tapi pembentukan kepribadian, pengisian nilai dan pengaruh ke dalam jiwa murid.
Karena pada kenyataannya, mental murid telah babak belur dikeroyok oleh “paradoks”. Mereka terlalu sering melihat guru yang marah-marah karena murid terlambat, sementara suka meringkas jam mengajarnya. Mereka sesungguhnya bosan dengan pendidik yang hanya bisa menyuruh mereka menyalin kisah-kisah dari buku teks sejarah, tapi tidak pernah mengajarkan pentingnya “nilai” sebuah warisan sejarah. Simpati murid bukan tertuju pada perbedaan homonim, homofon dan homograf dalam pelajaran bahasa. Karena memang, bukan itu yang membentuk karakternya. Terlalu naif, jika menjadikan isi pelajaran harus dipaksa untuk dikait-kaitkan dengan pembentukan karakter, hanya karena tuntutan pembuatan “RPP berkarakter”. Terlalu lama kita membohongi diri untuk hal-hal seperti itu. Materi tetap saja materi. Ia hanya mengisi lokus intelegensi dalam otak siswa. Adapun yang mengisi hatinya adalah bagaimana cara guru tampil menunjukkan sosok yang pantas “digugu” dan “ditiru”.
Tulisan ini bukanlah “kutukan”. Atau mungkin sebuah judgement. Tulisan ini hanya sebuah “tepukan kecil di pundak” agar kita mau menoleh ke belakang. Membenahi cara mendidik guru dengan bekal keteladanan bagi murid-muridnya. Karena yang dibutuhkan hari ini, bukanlah para “pengamat” yang pandai berceloteh. Namun “pelaku” yang turut mengambil peran dengan menjadi figur. Karena itu, mari menjadi “guru” !. Menjadi sosok yang pantas “digugu” (didengar) dan “ditiru” (diikuti).  Menjadi sosok yang mulia dengan keteladanan. Pribadi sederhana, namun berpengaruh dengan  contoh dalam berkata dan berbuat.