Ganggawa di Malam Hari

Orang bilang sangat pekat ini malam Ujung jari tak tampak mereka bilang

Menjadi Seorang Murobbi

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107)

FOTO KKN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

ISLAMIC CAMP

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM

Lokasi di Jl Dg Tata Raya, Parangtambung Makassar, Sulawesi Selatan

Thursday, 13 October 2011

Tanggung Jawab Guru



A.     Tanggung Jawab Profesional
Dalam pelaksanaan pendidikan secara formal, masyarakat memberikan kepada sekolah suatu tanggung jawab untuk merangsang pertumbuhan kepribadian dan kemampuan melalui kegiatan-kegiatan yang terencana dan mempunyai sasaran tertentu dan tujuan yang terinci. Lembaga pendidikan ini menuntut adanya tenaga pendidik yang terdidik khusus, yaitu guru professional, guru yang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya merencanakan kegiatan-kegiatannya untuk sasaran tertentu berupa sejumlah pengalaman belajar dalam bentuk mata pelajaran dan latihan, menurut jenjang pendidikan, dengan teknik dan metode yang dianggap efektif, dan system evaluasi yang dapat mengukur kemajuan belajar siswa.
Tujuan utama seorang guru adalah mendidik dengan menggunakan mengajar sebagai pelaksanaan tugasnya, siswa aktif belajar sebagai dampaknya, perubahan pola pikir dan perilaku sesuai dengan yand diharapkan  sebagai hasilnya. Akan tetapi timbul serentetan pertanyaan:apakah mengajar itu sebagai ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai lapangan profesi, apakah jabatan guru itu jabatan professional, yang menuntut guru sebagai tenega profsional atau bukan
Pada umumnya telah diakui bahwa mengajar adalah suatu ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai lapangan profesi,begitu juga dengan guru umumnya telah diakui sebagai jabatan professional. Dapat disimpulkan:(1)mengajar itu adalah ilmu pengetahuan, yang (2) dapat dijadikan arena profesi, dan(3) guru adalah tenaga professional.
Guru dalam melaksanakan tugasnya dihadapkan pada pilihan:cara bertindak mana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai,metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, dsb. Guru sebagai pelaksana tugas otonom bertindak sebagai pengambil keputusan.
B.     Sikap dan Perilaku Profesional Guru
Perilaku pada umumnya bersumber dari dorongan yang disadari dan dari dorongan yang tidak disadari meliputi segala kegiatan seseorang baik yang tampak maupun tidak tampak, fisik maupun psikis. Sehingga kegiatan belajar, mengajar, berpikir dapat dianggap sebagai perilaku.
Dorongan ialah desakan dari dalam yang tidak dipelajari, suatu desakan yang tidak mempunyai arah khusus. Motivasi ialah sesuatu dorongan yang desakannya terarah pada tujuan tertentu. Dengan batasan ini, kegiatan belajar, mengajar, berfikir dapat diartikan sebagai perilaku yang bermotif.
Dalam konsep pengambilan keputusan tercakup didalamnya pengertian tanggung jawab. Menurut konsep pertanggungjawaban dalam program pendidikan, siapapun yang diserahi tugas untuk mendidik harus harus dapat mempertanggungjawabkan tugasnya. Tanggung jawab itulah  yang mengharuskan guru mengajar dengan sengaja dan terencana. Atas dasar konsep ini,dapat dikatakan bahwa pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah pendidikan yang:
1.     Tujuannya jelas dan dapat dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus;
2.     Kegiatannya dapat diawasi agar selalu dapat mengarah kepada pencapaian tujuan;
3.     Hasilnya efektif karena tujuan tercapai, efisien karena menggunakan sumber-sumber yang tersedia;
4.     Menjalankan mekanisme umpan balik untuk menyempurnakan usaha pendidikan.
Dari pengertian akuntabilitas pendidikan dapat dikemukakan 3 jenis akuntabilitas, yaitu (1) akuntabilitas keberhasilan, (2) akuntabilitas system, (3) akuntabilitas professional.
Keberhasilan program pendidikan, dalam hal ini potensi lulusannya, tidak hanya ditentukan oleh pembinaan program, tetapi juga oleh para pengguna lulusan dan masyarakat pada umumnya. Kepercayaan terhadap suatu program disebut akuntabilitas, kepercayaan terhadap suatu program disebut akreditas,dan kepercayaan terhadap lulusan disebut certified.
Prinsip akuntabiliras itulah yang mengharuskan guru melaksanakan tugasnyadengan sebaik-baiknya dengan membuat perencanaan pengajaran yang meliputi (1) materi pelajaran, (2) tujuan pengajaran:umum dan khusus, (3)metode penyajian, (4) system evaluasi hasil belajar, (5) peninjauan kembali:tujuan, materi, dan metode berdasarkan hasil evaluasi. Sikap dan perilaku professional seorang guru tercermin dalam prinsip akuntabilitas.
Seorang guru professional dalan melaksanakan tugasnya menunjukkan sikap menjunjung tinggi karirnya dengan menjaga citra profesinya sehingga ia tidak bekerja asal-asalan, melainkan dengan perencanaan, yang dipikirkan semasak-masaknya. Sikapnya menunjukkan kehati-hatian mengenai apa yang akan dikerjakan karena tidak semua pengetahuan boleh diajarkan kepada siswa. Guru professional tidak menerima apa adanya, melainkan ia meneliti dan mengatur kembali materi yang akan diajarkan  sesuai dengan situasi edukatif yang dihadapi.
Sikap seorang guru professional menunjukkan sadar tujuan, berorientas pada efisiensi dan efektifitas,objektif, dan terbuka untuk perbaikan dan motivasi. Dalam mengajar, guru dengan sengaja mengusahakan terjadinya perubahan tingkah laku tertentu dalam diri siswa.


C.     Guru Sebagai Pendidikan Profesional
Dari segi pendidikan pra-jabatan, masalah penting yang dihadapi dalam rangka pengadaan tenaga kependidikan adalah yang berhubungan dengan kualitas dan relevansi. Kualitas menunjukkan efektivitas penyelenggaran program, sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan di dalam perencanaan program. Relevansi menunjukkan kepada kesesuaian perangkat kemampuan lulusan dengan kebutuhan nyata tugas-tugas di lapangan.
Mengingat perubahan social dewasa ini semakin cepat diakui dari manapun pembaharuan hendak dimulai, akhirnya masalah tenaga pelaksanalah sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan usaha itu. Ini berarti bahwa penanganan ilmu pendidikan secara professional  sudah sangat mendesak. Sebab itu kegiatan-kegiatan pendidikan tidak dapat ditangani secara amatir, perlu ada campur tangan lembaga professional seperti Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan(LPTK).
Dalam pengembangan profesionalisme tenaga pendidikan, hendaknya tekanan pendidikan pada kompetensi, bukan sekedar mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu. Dalam hubungan ini, P3G telah merumuskan 10 kompetensi guru: (1) menguasai bahan, (2) mengelola program belajar-mengajar, (3) mengelola kelas, (4) menggunakan program belajar-mengajar, (5) menguasai landasan-landasan kependidikan, (6) mengelola interaksi belajar-mengajar, (7) menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran, (8) menguasai fungsi dan program palayanan bimbingan dan penyuluhan, (9)  mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, (10) memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian guna keperluan pengajaran. Menurut Soedirto(1989) kesepuluh kemampuan dasar itu tidak boleh diterima sebagai yang sejajar dan setingkat, karena jika dikaji hubungan diantara kesepuluh  kemampuan tersebut pada hakikatnya ada yang hirarkis. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam hubungannya dengan upaya meningkatkan kualitas proses dan mutu hasil belajar diguguskan ke dalam empat gugus kemampuan, yaitu:(1) merencanakan program belajar-mengajar, (2)melaksanakan dan memimpin proses belajar-mengajar, (3)menilai kemajuan proses belajar mengajar, (4) menafsirkan dan memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar-mengajar. Keempat gugus  ini merupakan kemampuan sepenuhnya yang harus dikuasai oleh seseorang  yang bertaraf professional.
Kemampuan professional seorang guru pada hakikatnya adalah muara dari segala pengetahuan teori, segala penguasaan berbagai keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang cara mengajar, objek belajar, dan situasi belajar.
D.     Guru Sebagai Pengambil Keputusan
Dalam proses belajar-mengajar ada 3 gejala yang sangat menonjol, yaitu (a) ada guru yang mengajar, (b) ada siswa yang belajar, (c) ada bahan yang yang diajarkan. Ketiga gejala itu memberikan corak kepada keputusan yang diambil oleh guru, yaitu berkaitan dengan: (a) bahan yang dipelajari, (b)perilaku siswa, (c) perilaku guru.
1.      Keputusan yang Berkaitan dengan Bahan yang Diajarkan
Salah satu keputusan penting yang diambil oleh guru dalam mengajar adalah menentukan tujuan pengajaran, yaitu apa yang diajarkan. Sejumlah keputusan sebelumnya harus ada selama proses ini, diantaranya adalah pemahaman guru terhadap isi pelajaran, terutama kemampuan guru dalam menentukan apa yang siswa telah ketahui mengenai isi pelajaran.
2.      Keputusan yang Berkaitan dengan Perilaku Siswa
Keputusan yang perlu dipertimbangkan adalah perilaku siswa. Keputusan ini terdiri atas 2 bagian: (a) perilaku harus relevan dengan tujuan. Siswa tidak dapat menyelesaikan masalah fisika hanya dengan menghafal rumus-rumus fisika;dan (b) perilaku harus relevan dengan minat siswa. Bila siswa yang dihadapi kurang suka membaca, maka mempercayakan semata-mata pada buku-buku teks untuk bahan factual adalah cara mengajar yang tidak efektif.
Gabungan dari kedua keputusan mengajar apa yang siswa akan pelajari dan bagaimana ia akan mempelajarinya adalah dasar tujuan pengajaran dari suatu pelajaran. Penentuan tujuan ini selanjutnya akan membantu guru menentukan apakah berhasil mengubah perilaku siswa atau tidak.
3.      Keputusan yang Berkaitan dengan Perilaku Guru
Tori-teori dan prinsip belajar dapat memberitahukan kepada guru factor-faktor yang perlu dan menunjang kondisi dalam mengajar siswa untuk memperbaiki penampilan mereka. Tidak semua siswa memiliki gaya belajar yang sama. Oleh sebab itu guru perlu mengajar dengan cara yang bervariasi untuk menghadapi jenis belajar yang berbeda-beda. Guru yang berpengalaman menemukan bahwa mereka harus mengubah pelajarannya bagi siswa-siswa tertentu( menyesuaikan pelajaran dengan siswanya) untuk mencapai tujuan pengajaran. Factor terakhir yang mempengaruhi bagaimana mengajar adalah perilaku guru. Seperti halnya dengan siswa, guru juga berbeda dalam gaya mengajar, kepribadian, kebiasaan, harapan-harapan, dan sebagainya.
Keputusan-keputusan penting yang diambil dalam kegiatan proses belajar-mengajar terangkum sebagai berikut:
a.       Tugas belajar apa yang dapat ditangani oleh siswa pada saat memasuki kegiatan belajar?
b.      Perilaku siswa yang bagaimana relevan dengan tujuan tugas dan karakteristik siswa?
c.       Apa yang merupakan tujuan utama pelajaran?
d.      Prinsip-prinsip belajar apa yang dapat digunakan oleh guru untuk tugas belajar
e.       Modifikasi apa yang disyaratkan bagi siswa yang khusus?
f.       Bagaimana seorang guru menggunakan kompetensi dan kepribadian untuk menerjemahkan keputusan-keputusan mengajar ke dalam tindakan yang efektif?
g.       Metode apa yang paling baik untuk melengkapi tujuan?

E.     Guru Sebagai Pengelola Belajar
Tindakan professional kependidikan bersifat transaksional, yaitu tergantung kepada pihak-pihak dan kondisi-kondisi yang terlihat secara actual di dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam suatu pengelolaan sekurang-kurangnya ada empat fungsi, yaitu (1) fungsi perencanaan, (2) fungsi pengornisasian, (3) fungsipengendalian, (4) fungsi pengawasan.
1.Guru sebagai Perencana
Guru sebagai perencana melaksanakan kegiatan sbb:
a.Menganalisis Mata Pelajaran dan Kebutuhan Belajar
Salah satu tanda  persekolahan sebagai kegiatan yang teroganisasikan adalah proses yang disebut perencanaan. Menurut pengamatan dan hasil analisis, guru yang berhasil kebanyakan menunjukkan 3 macam perlakuan umum, yaitu: (a) mereka membuat rencana yang tersusun baik, (b) mereka berkomunikasi secara efektif dengan siswa-siswanya, dan (c) mereka mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa-siswanya.
b.Merinci Tujuan Pengajaran
           Pendidikan yang berlangsung dalam bentuk pengajaran adalah kegiatan sadar tujuan, kegiatan yang dengan sengaja dan sistemik terarah pada perubahan perilaku, menuju tercapainya tujuan yang diinginkan.
           Guru sebelum menyampaikan materi sudah mempunyai gambaran dalam pikirannya apa-apa yang hendak dicapai dalam proses belajar-mengajar. Ada tujuan umum yang sifatnya abstrak dijabarkan ke dakam tujuan khusus dalam bentuk perilaku yang dapat dilihat dan diamati.

2.Guru Sebagai Pengorganisasi
           Seorang yang profesionalbyang sebenarnya selain mengetahui apa yang dikerjakan, juga menyadari prinsip-prinsip dan alas an-alasan untuk apa atau mengapa hal tsb dilaksanakan. Agaknya pendidikan professional dirinci sebagai berikut: (a) pengetahuan apa yang harus dikuasai, (b) nilai dan sikap  apa yang harus dipegang,(c) keterampilan apa yang harus ditunjukkan?



3.Guru Sebagai Pengendali
           Guru sebagai pengendali menyaring dan mengembangkan metode dan media yang tepat untuk mencapai tujuan. Ada beberapa metode dan media yang dapat digunakan, tetapi tidak semua metode sama baiknya, juga tidak ada metode yang monopoli kebaikan. Oleh karena itu, agar penggunaan metode dan media pengajar itu mencapai hasil yang lebih baik, guru sebagai pengendali harus memilih metode dan media yang cocok digunakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan  metode dan media mengajar.

4.Guru Sebagai Pengawas
           Guru sebagai pengawas bertugas merevisi tujuan, isi, pendekatan atau metode mengajar sesuai dengan hasil evaluasi. Sekalipun proses belajar ,mengajar itu direncanakan sebaik-baiknya dan menggunakan pendekatan atau metode dan media yang dipilih dengan mempertimbangkan berbagai segi, kegagalan sering juga tidak dapat dihindari. Sehubungan dengan hal itu, dalam setiap upaya atau kegiatan sangat diperlukan evaluasi yang dapat memberikan masukan untuk program berikutnya dengan merevisi tujuan yang sangat ideal. Evaluasi dalam hal ini, selain untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil menurut apa yang direncanakan, juga merupakan bahan masukan untuk memperbaiki program berikutnya.

Aku percaya Tuhan itu Ada


Moningka city,03 februari 2451
“Siapa  namamu?”Seorang polisi menatapku tajam.”Widzar Al Ghifari,”Dengan susah payah kuucapkan namaku.Masih terasa ,betapa laras sepatu petugas itu bersarang di pipiku.
“Pekerjaan?”tanyanya lagi.
“Mahasiswa sejarah,”Kali ini aku bisa lebih lancar.
Kami dapat laporan ,kau adalah salah seorang yang menyebarkan ajaran kuno!”katanya lagi.
“Aku tidak pernah mengajarkan apapun kecuali sebuah kebenaran!”salah seorang polisi mencatat semua yang kukatakan.
“Apa yang kau maksud dengan kebenaran?”dia mendelik.
“Kebenaran akan Tuhan!”kataku mantap.
“Tuhan?Tuhan katamu?Hei anak muda,buka matamu lebar-lebar.Ini abad 25.Di sini tidak ada Tuhan.Kita adalah manusia-manusia pembaharu.Kitalah Tuhan yang sebenarnya….”Polisi itu terus berbicara.
“Tapi Tuhan itu ada.Dialah tuhan yang satu,tidak beranak dan tidak diperanakkan.”kata-kataku membuatnya berang.
“Kau bocah cilik,mau mengajari aku?Sini,kuajari kau menjadi Tuhan!”Lalu kepalan tangannya membuat gigiku serasa rontok.Darah mengalir dari bibirku.
“Bawa dia ke sel!”Perintahnya kepada opsir.

Moningka city,06 februari 2451
Baru saja aku selesai shalat shubuh,sel tempatku dikurung terbuka.seseorang menghampiriku,mungkin dia petugas penjara.
“Selamat pagi,”katanya.
“Aku tidak perlu menjawab bukan?”kataku mengejek.
“Terserah!Aku hanya ingin mendengar kabarmu.Kau masih yakin bahwa Tuhan ada?”
Dia masih menyunggingkan senyum.
“Insya Allah,aku akan meyakininya sampai kapanpun,”Mataku tajam menatapnya.
“Baiklah kalau begitu.Dua jam lagi kau akan diproses.Semoga kau menyesal telah mempercayai Tuhanmu itu!”
Aku menarik nafas panjang.Kuatkan hamba-Mu ini,ya Allah.


Dua jam kemudian,
Sidang dimulai.
Jaksa menuntut tersangka.Widzar Al Ghifari,mahasiswa jurusan sejarah Universitas Manitouus dengan tuduhan menyebarkan ajaran kuno kepada masyarakat.Dengan tuntutan,hukuman mati.
Tersangka diberikan waktu untuk mengadakan pembelaan.
Aku berdiri.
“Pak hakim,saya yakin.Dalam nurani Pak hakim,Bapak percaya akan sesuatu yang lebih hebat dari bapak.Bukan manusia,bukan juga diri Bapak sendiri.Pak,begitu pun saya.Itulah fitrah manusia.Meyakini bahwa Tuhan ada.Dan itu kita rasakan.Bukan hanya oleh Bapak,Tapi oleh seluruh yang hadir di sini!”
“Pak hakim!”Jaksa penuntut berdiri.”Dia mahasiswa sejarah.Dia sedang mencoba mengelabuhi kita semua.Dia bohong,Pak hakim!”
“Biarkan dia melanjutkan pembelaan,”Hakim memukul palu.
“Pak hakim,ketika saya kecil.Saya selalu bertanya kepada Ibu,”Siapa menciptakan matahari?bulan?dan bintang?”Lalu ibu saya telah mengecewakanku.Dia berkata.”Semua itu terlahir begitu saja,Tak ada yang menciptakannya….”
“Ibumu benar,nak!”Sebelum cerita berlanjut,hakim memotong.
“Ya,ibuku benar.Tapi itu ketika aku masih anak-anak,Sewaktu namaku masih Valentine.Tapi,kini namaku Widzar.Aku telah mengetahui apa yang ibuku tidak tahu.Ibuku salah.Tuhanlah yang menciptakan semesta raya ini.”
Seluruh yang hadir hening,Tak ada satu pun yang berkata atau pun berkomentar.Semua sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Pak hakim,sadarlah!Dia tengah menebarkan kebohongan.Dia sedang menghipnotis kita semua!”Jaksa penuntut kembali berdiri,suaranya menggema ke seluruh ruangan.Hakim memukul palu tiga kali,”Biarkan aku bertanya,”Katanya.
“Sejak kapan kau percaya akan Tuhan?”Hakim menatapku tajam.
“Berawal dari pertanyaanku masa kecil,Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di jurusan sejarah.Aku pikir mungkin aku akan menemukan sederet nama-nama yang telah menciptakan alam ini.Tapi hasilnya nol besar.Aku tak menemukan deretan nama-nama manusia,justru dari sanalah aku mengenal Tuhan.”
Keheningan menjalar,seluruh yang hadir menunduk,berfikir.Mencari-cari kebenaran dari kata-kata yang diucapkan sang pemuda.Hanya detak jam yang terdengar lebih nyaring dari biasanya.
Sidang berlanjut.
Saksi-saksi didatangkan,Jaksa membeberkan bukti-bukti.Akhirnya sidang ditutup dengan hasil:keputusan akan diumumkan seminggu lagi.




Moningka city,13 februari 2451
Keputusan dibacakan oleh juri.”Mengingat terdakwa telah melanggar UU No.131 pasal 2,tentang ajaran kuno.Menimbang….dst.Memutuskan:Widzar Al Ghifari,umur 22 tahun.Mahasiswa jurusan Sejarah,universitas Manitouus.Menerima hukuman mati.Semoga kasus ini menjadi sebuah pelajaran agar tidak ada lagi yang mencoba untuk menyebarkan bentuk-bentuk pemikiran apapun tentang Tuhan.”
Hadirin hening,semua perempuan yang hadir matanya berkaca-kaca.
“Kau boleh mengajukan keinginan terakhirmu besok.Sebelum hukuman mati dilaksanakan.”Hakim berkata,”Dengan ini sidang saya tutup!”
Aku kembali diseret masuk ke dalam sel,Penjagaan diperketat.Yang bisa kulakukan hanya bermunajat,memohon yang terbaik atas segala urusan ini.
Menjelang tengah malam,ketika aku masih dzikir seusai shalat isya.Tiba-tiba pintu selku terbuka.Empat orang berpakaian hitam –hitam mengelilingiku.
“Kau masih ingin hidup?”Terdengar suaranya tegas,membuatku bergidik.Aku hanya diam.
“Jawab goblok!”Kata yang satunya lagi.
“Hidup dan mati hanya milik Allah!”kataku tenang.
“Anjing!Kau akan lihat besok,bahwa kamilah tuhan.Sebab kami yang menguasai jiwamu,”kata seseorang dari mereka yang berada di belakangku.Aku tidak bisa melihat wajah keempat orang itu,mereka memakai penutup.Hanya matanya yang kulihat memancarkan amarah.
“Kau masih hidup besok,kalau saja besok di atas tempat gantungan kau mengakui secara sadar bahwa Tuhan itu tidak ada!”Kata seorang yang lebih kecil tubuhnya dibanding ketiga orang temannya.
“Aku tak mau!”
“Terserah kau bocah bodoh!”seorang yang pertama kali bertanya mendorong tubuhku hingga terjatuh di lantai yang lembab dan dingin.
“Semoga tuhanmu besok datang besok untuk menolongmu!”Masih terdengar kata-kata terakhir dari mereka saat meninggalkan sel,tempatku menuggu kematian.

Moningka city,14 februari 2451
Tempat eksekusi,08.00 am.
Seluruh orang yang ingin menyaksikan pemberian hukuman,telah berkumpul mengelilingi tambang tempat gantungan.Ini adalah hukuman yang sudah sejak lama tak pernah dilaksanakan.Di kota ini,semua orang sudah melupakan Tuhan.Mereka tak ingin atau pura-pura tak ingin tahu.
Anak muda itu berjalan dengan tenang,matanya bening.Sebening aliran sungai.Tak ada ketakutan sedikit pun pada sorot matanya.
“Kau tak akan mengubah keyakinanmu,Anak muda?”Hakim menatapku lekat.
“Tidak.”Jawabku mantap.
“Baiklah,eksekusi akan dimulai!”kata hakim akhirnya,”Ada yang ingin kau lakukan pada detik-detik terakhirmu?”katanya melanjutkan.
“Tidak,”kataku lagi.
Dua algojo mengiring sang pemuda menuju tempat penggantungan.Semua mata tertuju padanya.Dia menaiki tangga ,hanya tiga anak tangga.Berjalan mendatar.Lalu dipersilahkan naik bangku.Tambang telah melekat pada lehernya.
Sedetik sebelum algojo menarik tambang.
“Ada yang ingin kau katakan ?”Algojo memandangku lekat.
“Ya”,jawabku.
“Katakanlah!”algojo berkata lagi.
“Aku ingin seluruh yang hadir di sini mendengar,”kataku lagi.
“Mereka akan mendengar.Katakanlah!”
Pemuda itu menarik nafas panjang,matanya menatap sekeliling.Seluruh yang hadir telah siap dengan kata-kata yang hendak diucapkannya.
“Sedetik menjelang kematian.Jangan malawan takdir Tuhan atas kita.Kalau memang detik ini detik terakhirku bernafas,maka izinkan kepadakuuntuk menulis tentang segala keresahan yang selama ini hanya menjadi pergolakan dalam batin.Jangan menghalangiku untuk mencatat apa yang telah lewat,sebab tidak ada lagi penantiaan atas kata-kata,”sampai di situ aku berhenti.
“Kau ingin menulis?”Tanya hakim.
“Ya,”aku menganggukan kepala.
Algojo memberiku kesempatan untuk menulis.Akupun menulis.
Inilah hari,di hari kata-kata menjadi cahaya.Dia akan berteriak tentang kebenaran yang selama ini disembunyikan dalam gelap.Allah Maha Besar.Peradaban telah kembali menjadi purba.Kita telah menjadi binatang peradaban.Aku mohon!Temukanlah cahaya,karena di Sanalah Tuhan bersemayam.Nyawaku berakhir di tiang gantungan,tapi Tuhan akan selalu hidup.Widzar Al Ghifari.

14 februari 2451
Itulah tulisan yang dipahat pada sebuah nisan.Kata-kata itulah yang telah ditulis sang pemuda,menjelang ajalnya.

Moningka city,14 februari 2451
“Ibu…..!Aku percaya bahwa Tuhan itu ada!”Mavic,bocah berusia sebelas tahun berteriak pada ibunya.
“Jangan bicara sembarangan anak ingusan,atau kau akan mati!”

Lampu Merah

AKu ingin bercerita sedikit tentang kejadian yang aku alami kemarin. Tepatnya malam senin, pukul 8 malam sepulang dari mengajar privat. Dalam perjalanan pulang, aku berhenti di pertigaan Jl A.P Perttarani dg Jl St Alaudin karena lampu merah. Saat berhenti itulah, pandanganku tertuju pada seorang bocah kecil di bawah umur. Hampir-hampir air mataku jatuh melihat kondisinya yang sangat menyedihkan. Yang pertama terlintas di pikiranku, sudah jam segini,  bocah sekecil ini masih harus ada di pinggir jalan merasakan kejamnya hidup. Bocah perempuan itu  duduk di pinggir sambil terkantuk-kantuk,  memandang pasrah setiap pengemudi yang berhenti. Di tangannya bertumpuk koran yang belum laku, yang dari tadi pagi mungkin dia jajakan. Kuperhatikan matanya, ku melihat sorot mata anak bangsa yang ditelantarkan dan korban ketidakadilan.
Ingin sekali aku meraih pecahan uang terbesar dalam dompetku dan kuberikan padanya, namun ulah orang-orang Indonesia yang tidak sabar, aku di teror klakson tiada ampun menyuruhku untuk jalan krn lampu hijau sudah menyala. Apa daya, aku hanya bisa mengumpat diriku dan memprotes keadaan. Kalau orang menyalahkan orang yang memberi uang pada anak jalanan dengan alasan semakin membuat mereka malas dan akan terus menjadi anak jalanan, maka saya mau minta solusi, bagaimana seharusnya agar mereka terbebas dari penderitaan yang seharusnya tidak mereka rasakan itu?
Sampai sekarang jika mengingat wajah bocah itu, aku ingat wajah bangsa ini. Iba dan miris melihatnya.

Friday, 7 October 2011

Al Ukhuwah (Persaudaraan)

Ukhuwah islamiyah adalah salah satu karunia, cahaya dan nikmat ilahiyah yang dicurahkan Allah Subhana Wa Ta'ala dalam lubuk hati hamba-Nya yang ikhlas, insan-insan pilihan yang bertakwa kepada-Nya, yang menghasilkan suasana persaudaraan mahabbah di antara sesama muslim ibarat satu tubuh. Dalam Al Qur'an surah Al Anfaal ayat , Allah berfirman :"Dan Dia (Allah) yang memepersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, miscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sunnguh Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana."


Kondisi yang diperlukan guna membina Ukhuwah Islamiyah :
1. Ikhlas karena Allah semata atas segala sesuatu
2. Didasari iman, Niat sholeh dan takwa
3. Iltizam dengan manhaj Islami
4. Tegak/Teguh berasas nasehat karena Allah subhana wa ta'ala
5. Setia dalam waktu susah dan senang


Usaha-Usaha mempererat Jiwa-Jiwa :
1. Mampu menunjukkan rasa cinta kepada sesama muslim
2. Mohon dido'akan dari jauh saat berpisah
3. Tunjukkan kegembiraan dan senyuman saat bertemu
4. Berjabat tangana bila berjumpa
5. Berusaha sering saling mengunjungi
6. Ucapkan selamat berkenan dengan sukses yang dicapai sesama muslim
7. berilah hadiah (bila mampu) berkenan dengan kejadian tertentu
8. Memperhatikan saudaranya terutama atas musibah yang terjadi
9. Membantu keperluan sesama muslim
10. Memenuhi hak-hak sesama muslim.


Dampak positif atas terciptanya kondisi Ukhuwah Islamiyah :
1. Memeperkokoh persatuan dan kesatuan kaum Muslimin
2. Dapat menunjang usaha melenyapkan kefakiran dan kemiskinan
3. dapat menunjang usaha memberantas kebodohan


Sabda Rasulullah :"Tidak akan masuk Jannah orang yang memutuskan tali kasih sayang kekerabatan" (THR.Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Kematian Hati


Banyak orang tertawa tanpa (mahu) menyedari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke saf solat sepertinya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekadar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
            Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut kerana shiam (puasa) atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahawa engkau adalah seorang soleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gementar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku kerana ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebahagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengatakan amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, kerana kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan peribadinya, atau tidak mahu kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan
kata. Dimana kau letakkan dirimu ?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkau pun berani tampil di depan seorang kaisar (maharaja) tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat maksiat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaat pun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa tahap kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka
lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja sakit akibat daripada pengambilan putau (heroin). Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Biasalah, bila aku main mata dengan aktivis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelefon dengan menambah waktu yang tak kau perlukan sekadar melepas kejenuhan dengan canda (gurauan) jarak jauh"
Betapa biasanya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat laki-laki (yang bersifat dwijantina) berpakaian perempuan, kerana kau sangat mendukung ustazmu yang mengatakan "Jika ALLAH melaknat laki-laki berpakaian perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton perbuatan mereka tidak dilaknat?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" bererti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader (aktivis dakwah) hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang oleh cabaran: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga di depan ribuan massa. Semua gerak harus diambil kira dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melencong 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf (penyelewengan) di kalangan awam, sedikit banyak kerana para elite-nya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mahu menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa minit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng (mudah) mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya bergaya lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, kerana kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rakan perempuan dalam aktiviti da'wahnya? Akankah kau bergantung kepada penghormatan masyarakat awam kerana statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu (bahasa-bahasa indahmu) yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi
dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengambil produk junk food, semata-mata kerana nuansa "westernnya". Engkau akan menjadi faqih pendebat yang hebat saat engkau meminum minuman halal itu, dengan perasaan
"lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah tempatan yang tak berjenama. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mendapatkan harga diri dan penghormatan ummat dengan pameran kereta, rumah mewah, "kedai emas berjalan" dan segudang aksesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana.
"Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan wang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi selera-ku"

* Oleh: KH Rahmat Abdullah, Ketua Yayasan Iqro', Bekasi