Sunday, 9 June 2013

Hubungan Ikhwa dengan Akhwat

Ada hal yang entah harus kita menanggapi lucu, sedih, atau bersikap bagaimana. Yaitu ketika dihadapkan pada kondisi dimana para pengurus-pengurus organisasi keislaman (aktivis islam) yang saya anggap terkadang bersikap tidak konsisten, khususnya masalah bagaimana muamalah (hubungan) dengan yang bukan mahram. Ada fenomena yang saya sendiri pernah melewatinya, yaitu dimana ketika ada seorang ikhwa yang begitu “tertunduk” ketika melewati akhwat atau ngotot tidak mau berjabat tangan dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Sikap yang melambangkan keshalihan dan tingkat ketakwaan yang tinggi. Dan tentu sosok laki-laki ideal dimata akhwat tentunya. Namun, di sisi lain, sepuluh meter dari posisi menunduknya tadi karena melewati akhwat, dia tampak asyik-asyik saja dan tanpa menundukkan pandangan pada wanita lain yang lalu lalang. Bukankah itu sebuah sikap ketidak-konsistenan? Atau seorang akhawaat yang baru jarak 5 meter dari ikhwa sudah menutup mukanya dengan ujung jilbabnya, sebuah sikap yang merupakan ciri-ciri akhwat militan. Namun sosok militan itu hilang ketika bermuamalah dengan daeng becak atau tukang sayur, sambil bercanda dan tertawa malah. Lagi-lagi sebuah sikap plin-plan. Saya jadi ingat dosen agama saya pernah menceritakan tantang adiknya yang menganggap haram mendengar musik, namun ketika menonton televisi yang ada musiknya, dia santai-santai aja menikmatinya. Dosen saya mengatakan,”Kalo memang kita memahami sesuatu, kita harus melaksanakaanya secara konsisten, dimana pun dan bagaimanapun. Kalau tidak, bukankan kita seperti orang yang munafik?”
Saya bukannya tidak sepaham dengan sikap menjaga pergaulan seperti contoh di atas, bahkan sangat salut dan setuju pada mereka yang mampu menjaga batas-batas pergaulan menurut islam. Saya juga pernah lama di fase ini. Namun seiring waktu setelah melewati fase-fase kehidupan dan dihadapkan pada kehidupan nyata dalam masyarakat, saya sadar bahwa idealitas kita harus kita sesuaikan dan seyogyanya bisa bersikap lebih bijaksana.
Saya mulai membandingkan tata cara bagaimana cara bersikap dengan lawan jenis. Pertama, Ketika saya misalnya menundukkan pandangan dan tidak ngobrol pada akhwat tapi sebaliknya tidak menundukkan pandangan dan mengobrol kepada yang bukan akhwat, saya merasa seorang munafik. Sebuah perilaku yang tidak konsisten, plin-plan.Kedua,  Ataukah saya menundukkan pandangan dan tidak bersentuhan dengan semua lawan jenis yang bukan mahram, tidak mau bercakap-cakap, tidak tersenyum, jika disapa tidak mengubris, dan menjaga jarak dengan semua orang. Maka sayalah orang yang paling arogan dan eksklusif. Jelas terkesan ekslusif, walaupun niat kita baik, menjaga pergaulan. Namun orang hanya melihat dari luar, kamu diajak biacara lantas acuh tak acuh, maka kamu akan dicap arogan dan tidak sosialis. Ketahuilah, mudharat yang akan timbul akan jauh lebih besar dari manfaat yang kamu inginkan. Teman-temanmu akan sedikit. Bukankah menjalin silahturahmi bisa meluaskan rejeki dan menambah umur? Bukankan bermuka ceria pada kawan adalah sedekah.
Maka setelah melalui proses disertai perenungan (ciee perenungan), saya memilih untuk bergaul dengan siapa saja, namun secara sewajarnya. Tidak peduli anggapan ikhwa/akhwat yang “menuduh” saya futur, tidak menjaga hijab, atau apalah...saya memilih mengurangi mudharat dan memperbaiki citra kalau orang-orang yang ikut pengajian terkesan kaku. Mulai dari teman, saya sengaja tidak menjaga jarak dengan teman-teman perempuan seperti juga saya tidak akan terlalu tunduk gimana gitu kalau ketemu akhwat, semuanya sama, menjaga batas secara sewajarnya, tidak dibuat-buat. Begitu pula dengan pakaian saya, saya lebih memilih pakaian-pakaian yang meski tidak koko tapi rapi, bersih, dan sopan. Saya lebih sering menggunakan kemeja atau kaus berkerah, atau celana saya tidak sampai setengah betis, tapi berada di pas si atas mata kaki, semua itu agar kita tidak terlalu berbeda dengan masyarakat umunya sehingga apa yang kita sampaikan dengan mudah diterima.
Dan hasilnya, paling saya rasakan dalam keluarga saya. Ketika masih SMA dulu, saya menghadapi semua secara emosi. Jika adik tidak sholat, langsung main pukul. Tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, pokoknya semua keinginanku aku paksakan. Akibatnya, orang tua tidak respek dengan kelakuan seperti itu, meski yang kita sampaikan benar. Betapa banyak kebenaran yang tertolak karena cara kita menyampaikan kebenaran itu yang tidak benar. Maka saya sadar, dan mulai melakukan pendekatan-pendekatan yang tidak menggurui. Lebih menunjukkan sikap yang baik dan ramah. Berusaha menjadi berprestasi. Inilah islam yang sesungguhnya. Hasilnya, Saya tidak pernah ceramahi orang tua saya, suruh adik saya sholat, tapi alhdulillah, karena melihat tingkah dan sikap kita yang memang baik, maka dengan sendirinya mereka akan tertarik dengan kita. So, janganlah kita seperti kura-kura yang berpura-pura.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment